|
|
di tulis oleh Santriadi Rizani
di kutip dari http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=17033
Siapa yang tidak kenal dengan guru? Di dunia ini tidak ada seorangpun
yang belajar tanpa guru. Bahkan Nabi Adam ’alaihissalam sebagai manusia
pertama pun ada gurunya, tidak tanggung-tanggung gurunya adalah Sang
Khaliq yaitu Allah SWT (QS. Al-Baqarah: 31). Dalam konteks sekarang,
guru bukan hanya seorang sosok yang memberikan pelajaran (materi) di
kelas juga membimbing, membina, mengarahkan, mengasah, memberi teladan
yang baik, dan seterusnya, melainkan sebuah pengalaman pun dapat
dikatakan sebagai belajar dan itulah yang disebut sebagai guru, begitu
pula dengan membaca buku, "membaca" alam sekitar dan sebagainya.
Di sekolah, setiap hari siswa bertemu, bercengkrama dan berinteraksi
dengan gurunya, lalu apa pandangan para siswanya terhadap guru,
singkatnya bagaimana citra seorang guru di mata para siswa? Ada
ungkapan guru adalah segalanya, tidak ada guru siswa tak tentu rudu
arahnya, bisa membuat onar dan kekacauan di dalam kelas maupun di luar
kelas. Tanpa guru siswa tak menentu, ada yang menunggu dan menunggu
sampai ada siswanya yang dungu dan lugu.
Guru galak/garang
Citra pertama adalah citra seorang guru yang galak. Pada dasarnya,
tidak ada manusia di dunia ini yang galak (baca: suka marah) karena
manusia diciptakan sesuai dengan fitrahnya. Artinya, segala tingkah
laku, sikap dan perangai manusia sesuai dengan hatinya. Guru tidak akan
bertindak semena-mena sepanjang tidak ada yang menjadi faktor penyebab
dalam tindakan yang dilakukan oleh siswanya. Guru akan marah jika ada
siswa yang melakukan hal-hal dan tindakan yang melanggar aturan sekolah
dan sebagainya. Oleh karena itu, jangan sampai siswa menjadi pemicu
kemarahan guru. Kasus penganiayaan guru terhadap siswa yang sering kita
dengar dan saksikan di berbagai media memberitakan bahwa tidak lain
karena siswa yang menjadi biang tindakan dan kekesalan serta kemarahan
guru.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati manusia dibagi menjadi tiga,
yaitu: (1). Qalbun Salimun (hati yang selamat/sehat), (2). Qalbun
Maridhun (hati yang berpenyakit), (3). Qalbun Mayyitun (hati yang
mati). Qalbun Salimun adalah hati yang selalu berjalan di jalan yang
benar/lurus sesuai dengan fitrahnya. Qalbun Maridhun adalah hati yang
sudah dimasuki dan dinodai oleh hal-hal negatif sehingga dihinggapi
penyakit-penyakit duniawi yang melalaikan lagi menyesatkan. Sedangkan
tingkat yang paling parah adalah Qalbun Mayyitun yaitu mata hati yang
sudah terkunci mati mata hatinya dikarenakan kekafiran, sehingga
hatinya menjadi mati dan tidak akan hidup atau dapat dibuka melainkan
hanya dengan hidayah dari Allah SWT. Begitupun guru, hati seorang guru
awalnya Qalbun Salimun, namun hatinya akan menjadi Qalbun Maridhun
tatkala ada dipengaruhi oleh hal-hal di luar dirinya yang disebabkan
oleh tingkah laku para siswanya sehingga guru menjadi marah.
Guru disiplin
Citra kedua adalah disiplin. Disiplin bukan hanya tepat waktu datang ke
sekolah, namun dalam segala hal. Guru yang disiplin adalah guru yang
patuh dan taat terhadap peraturan sekolah, disiplin dalam memberikan
pengajaran dan penilaian (evaluasi) untuk keperluan kependidikan dan
sebagainya.
Menurut Kartini Kartono (1995), "guru dituntut untuk menguasai bahan
pelajaran yang akan diajarkan, dan memiliki tingkah laku yang tepat
dalam mengajar." Oleh sebab itu, guru harus dituntut untuk menguasai
bahan pelajaran yang disajikan, dan memiliki metode yang tepat dalam
mengajar.
Guru teladan
Teladan artinya sesuatu yang patut ditiru, dan guru hendaknya menjadi
teladan bagi murid-muridnya karena guru adalah seseorang yang memang
pantas untuk – mengutip pepatah Jawa – diguGU (dipatuhi) dan ditiRU
(dicontoh). Bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara (1889-1959) sudah
mewariskan filsafat pendidikan bagi para guru: "Ing Ngarsa sung
tuladha, in madya mangun karsa, tut wuri handayani" (di depan memberi
teladan, di tengah membimbing, dan di belakang mendorong).
Guru yang baik
Citra selanjutnya adalah guru yang baik. Citra ini muncul ketika para
siswa tidak pernah diperlakukan oleh gurunya dengan semena-mena (baca:
guru tidak pernah marah dan itu ini). Guru juga yang selalu memberikan
nilai yang "bagus" di raport siswanya. Bahkan ada sebagian siswa yang
mengatakan guru yang baik adalah guru yang tidak selalu memberikan
latihan dan tugas, tetapi akan mendapatkan nilai yang memuaskan di
dalam raport. Namun, beberapa minggu terakhir kita lihat di televisi
yang menayangkan ada di antara siswa yang terlibat dalam aksi tawuran
bahkan yang lebih parahnya lagi ditemukan aksi kekerasan antar siswa
yang terekam dalam telepon seluler (ponsel). Inikah akhlak dan moral
siswa sebagai generasi penerus bangsa? Jika ini yang terjadi, citra
guru yang baik masih dipertanyakan. Dan masih banyak lagi citra-citra
lain yang dicap kepada guru. Wallahu a’lam. **
*) Penulis adalah alumni STAIN Pontianak.
Categories: Berita Pendidikan
