|
|
Oleh: Ardiani Mustikasari, S Si, M. Pd
A. PENDAHULUAN
Filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam pendidikan
(Kneller, 1971). Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah
pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi
pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta
lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta
pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains
pendidikan.
Seorang guru, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana pendidikan,
perlu mengetahui filsafat pendidikan. Seorang guru perlu memahami dan
tidak boleh buta terhadap filsafat pendidikan, karena tujuan pendidikan
senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan kehidupan
individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan . Tujuan
pendidikan perlu dipahami dalam hubungannya dengan tujuan hidup. Guru
sebagai pribadi mempunyai tujuan hidupnya dan guru sebagai warga
masyarakat mempunyai tujuan hidup bersama.
Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para pendidik
(guru). Hal tersebut akan mewarnai sikap perilakunya dalam mengelola
proses belajar mengajar (PBM). Selain itu pemahaman filsafat pendidikan
akan menjauhkan mereka dari perbuatan meraba-raba, mencoba-coba tanpa
rencana dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan.
B. Permasalahan
Bagaimana peranan filsafat pendidikan bagi guru? Apa yang menentukan filsafat pendidikan seorang guru?
C. Pembahasan
Peranan filsafat pendidikan ditinjau dari tiga lapangan filsafat, yaitu:
1. Metafisika
Metafisika merupakan bagian filsafat yang mempelajari masalah hakekat:
hakekat dunia, hakekat manusia, termasuk di dalamnya hakekat anak.
Metafisika secara praktis akan menjadi persoalan utama dalam
pendidikan. Karena anak bergaul dengan dunia sekitarnya, maka ia
memiliki dorongan yang kuat untuk memahami tentang segala sesuatu yang
ada. Memahami filsafat ini diperlukan secara implisit untuk mengetahui
tujuan pendidikan.
Seorang guru seharusnya tidak hanya tahu tentang hakekat dunia dimana
ia tinggal, tetapi harus tahu hakekat manusia, khususnya hakekat anak.
Hakekat manusia:
Manusia adalahü makhluk jasmani rohani
Manusia adalah makhluk individual sosialü
ü Manusia adalah makhluk yang bebas
Manusia adalah makhluk menyejarahü
2. Epistemologi
Kumpulan pertanyaan berikut yang berhubungan dengan para guru adalah
epistemologi. Pengetahuan apa yang benar? Bagaimana mengetahui itu
berlangsung? Bagaimana kita mengetahui bahwa kita mengetahui? Bagaimana
kita memutuskan antara dua pandangan pengetahuan yang berlawanan?
Apakah kebenaran itu konstan, ataukah kebenaran itu berubah dari
situasi satu kesituasi lainnya? Dasn akhirnya pengetahuan apakah yang
paling berharga?
Bagaimana menjawab pertanyaan epistemologis tersebut, itu akan memiliki
implikasi signifikan untuk pendekatan kurikulum dan pengajaran. Pertama
guru harus menentukan apa yang benar mengenai muatan yang diajarkan,
kemudian guru harus menentukan alat yang paling tepat untuk membawa
muatan ini bagi siswa. Meskipun ada banyak cara mengetahui, setidaknya
ada lima
cara mengetahui sesuai dengan minat / kepentingan masing-masing guru,
yaitu mengetahui berdasarkan otoritas, wahyu tuhan, empirisme, nalar,
dan intuisi.
Guru tidak hanya mengetahui bagaimana siswa memperoleh pengetahuan,
melainkan juga bagaimana siswa belajar. Dengan demikian epistemologi
memberikan sumbangan bagi teori pendidikan dalam menentukan kurikulum.
Pengetahuan apa yang harus diberikan kepada anak dan bagaimana cara
untuk memperoleh pengetahuan tersebut, begitu juga bagaimana cara
menyampaikan pengetahuan tersebut.
3. Aksiologi
Cabang filsafat yang membahas nilai baik dan nilai buruk, indah dan
tidak indah, erat kaitannya dengan pendidikan, karena dunia nilai akan
selalu dipertimbangkan atau akan menjadi dasar pertimbangan dalam
menentukan tujuan pendidikan. Langsung atau tidak langsung, nilai akan
menentukan perbuatan pendidikan. Nilai merupakan hubungan sosial.
Pertanyaan-pertanyaan aksiologis yang harus dijawab guru adalah:
Nilai-nilai apa yang dikenalkan guru kepada siswa untuk diadopsi?
Nilai-nilai apa yang mengangkat manusia pada ekspresi kemanusiaan yang
tertinggi? Nilai-nilai apa yang bener-benar dipegang orang yang
benar-benar terdidik?
Pada intinya aksiologi menyoroti fakta bahwa guru memiliki suatu minat
tidak hanya pada kuantitas pengetahuan yang diperoleh siswa melainkan
juga dalam kualitas kehidupan yang dimungkinkan karena pengetahuan.
Pengetahuan yang luas tidak dapat memberi keuntungan pada individu jika
ia tidak mampu menggunakan pengetahuan untuk kebaikan.
Filsafat pendidikan terdiri dari apa yang diyakini seorang guru
mengenai pendidikan, atau merupakan kumpulan prinsip yang membimbing
tindakan profesional guru. Setiap guru baik mengetahui atau tidak
memiliki suatu filsafat pendidikan, yaitu seperangkat keyakinan
mengenai bagaimana manusia belajar dan tumbuh serta apa yang harus
manusia pelajari agar dapat tinggal dalam kehidupan yang baik.
Filsafat pendidikan secara fital juga berhubungan dengan pengembangan semua aspek pengajaran. Dengan
menempatkan filsafat pendidikan pada tataran praktis, para guru dapat
menemukan berbagai pemecahan permasalahan pendidikan.
Terdapat hubungan yang kuat antara perilaku guru dengan keyakinannya:
1. Keyakinan mengenai pengajaran dan pembelajaran
Komponen penting filsafat pendidikan seorang guru adalah bagaimana
memandang pengajaran dan pembelajaran, dengan kata lain, apa peran
pokok guru? Sebagian guru memandang pengajaran sebagai sains, suatu
aktifitas kompleks. Sebagian lain memandang sebagai suatu seni,
pertemuan yang sepontan, tidak berulang dan kreatif antara guru dan
siswa. Yang lainnya lagi memandang sebagai aktifitas sains dan seni.
Berkenaan dengan pembelajaran, sebagian guru menekankan
pengalaman-pengalaman dan kognisi siswa, yang lainnya menekankan
perilaku siswa.
2. Keyakinan mengenai siswa
Akan berpengaruh besar pada bagaimana guru mengajar? Seperti apa siswa
yang guru yakini, itu didasari pada pengalaman kehidupan unik guru.
Pandangan negatif terhadap siswa menampilkan hubungan guru-siswa pada
ketakutan dan penggunaan kekerasan tidak didasarkan kepercayaan dan
kemanfaatan.Guru yang memiliki pemikiran filsafat pendidikan mengetahui
bahwa anak-anak berbeda dalam kecenderungan untuk belajar dan tumbuh.
3. Keyakinan mengenai pengetahuan
Berkaitan dengan bagaimana guru melaksanakan pengajaran. Dengan
filsafat pendidikan, guru akan dapat memandang pengetahuan secara
menyeluruh, tidak merupakan potongan-potongan kecil subyek atau fakta
yang terpisah.
4. Keyakinan mengenai apa yang perlu diketahui
Guru menginginkan para siswanya belajar sebagai hasil dari usaha
mereka, sekalipun masing-masing guru berbeda dalam meyakini apa yang
harus diajarkan.
D. PENUTUP
Peran filsafat pendidikan bagi guru, dengan filsafat metafisika guru
mengetahui hakekat manusia, khususnya anak sehingga tahu bagaimana cara
memperlakukannya dan berguna untuk mengetahui tujuan pendidikan. Dengan
filsafat epistemologi guru mengetahui apa yang harus diberikan kepada
siswa, bagaimana cara memperoleh pengetahuan, dan bagaimana cara
menyampaikan pengetahuan tersebut. Dengan filsafat aksiologi guru
memehami yang harus diperoleh siswa tidak hanya kuantitas pendidikan
tetapi juga kualitas kehidupan karena pengetahuan tersebut.
Yang menentukan filsafat pendidikan seorang guru adalah seperangkat
keyakinan yang dimiliki dan berhubungan kuat dengan perilaku guru,
yaitu: Keyakinan mengenai pengajaran dan pembelajaran, siswa,
pengetahuan, dan apa yang perlu diketahui.
E. DAFTAR PUSTAKA
Kneller, George F. 1971. Introduction to the Philosophy of Education. John Willey Sons Inc, New York.
Sadulloh, U. 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan. CV Alfabeta, Bandung.
Sindhunata. 2000. Menggagas Paradigma Baru Pendidikan. Kanisius, Yogyakarta
Soedijarto. 1993. Menuju Pendidikan Nasional yang Relevan dan Bermutu. Balai Pustaka, Jakarta.
Zamroni. 2000. Paradigma Pendidikan Masa Depan. PT Bayu Indra Grafika, Yogyakarta.
Categories: None